Arsip untuk Oktober, 2007

Pesta Halloween di Jakarta: Perlukah?

Oktober 30, 2007

 

Pindah blog nih ke http://maliablog.wordpress.com/

Hari ini dalam perjalanan ke kantor saya sempat mendengarkan Spadamunegri di Mustang FM. Tema pagi ini adalah ‘Perlukah pesta halloween di Jakarta?” Saya terkesan dengan sms tanggapan yang dikirimkan oleh ABG-ABG Jakarta.

Secara umum, pengirim SMS merespon tidak perlu mengikuti budaya Halloween ala Amerika Serikat (Amerika) karena itu bukan budaya Indonesia. Ada juga satu dua sms yang berbunyi, mungkin ngga ada salahnya bikin pesta Halloween mengingat kultur masyarakat kita mengenal banyak setan bahkan mungkin lebih banyak jenis setan di Indonesia daripada di Amerika, hahaha…

Bayangkan jika Amerika hanya mengenal Vampir, Frankenstein dan Drakula, kita di Indonesia punya banyak sekali jenis setan dari Sabang sampai Merauke. Dari setan penasaran macam Pocong dan kuntilanak sampai setan-setan penunggu lokasi tertentu macam Wewe Gombel dan Si Manis Jembatan Ancol. Seiring jaman setan-setan kita bahkan mulai memiliki profesi atau setidaknya pernah memiliki profesi, misalnya Suster Ngesot. Begitu bangganya kita punya setan berprofesi sampai-sampai begitu banyak film didedikasikan untuk si Suster Ngesot ini. Belum lagi sineas sinetron Indonesia yang sangat mengidolakan setan-setan ini.

Yang menjadi pembahasan selanjutnya adalah budaya Indonesia macam apa yang bsia dilestarikan oleh pemuda (baca: ABG) ala ABG juga? Nah agak susah menjawab pertanyaan ini.

Saya sendiri kepikiran bagaimana kalau di hari Sumpah Pemuda 28 Oktober (tanggalnya deket-deket tanggal perayaan Halloween ala Amerika) kita mengadakan pesta kostum. Tapi alih-alih kostum setan, lebih orisinil kalau kita mengadakan pesta kostum dengan menirukan tokoh terkenal Indonesia. Dari politikus yang sedang naik daun sampai artis yang sedang heboh menghiasi TV nasional. Dari mantan-mantan Presiden yang mulai unjuk gigi lagi sampai tokoh pengusaha yang sedang tidak berusaha. Saya pikir ini lebih mencerminkan budaya Indonesia. Ada yang mau coba?

Review film “Get Married”

Oktober 24, 2007

Blog saya pindah ke http://maliablog.wordpress.com/

Get Married dibuka dengan suara narator yang menceritakan kisah masa kecil dan cita-cita 4 tokoh utama yaitu Mae (Nirina Zubir), Guntoro (Desta Club Eighties), Eman (Aming) dan Beni (Agus Ringgo). Tadinya saya khawatir film ini akan terjebak mengikuti film “Jomblo” yang sepanjang film selalu diselingi narator. Namun untungnya suara narator hanya di pembukaan film.

Film ini bercerita tentang Mae, sarjana sekretaris yang masih menganggur dan tetap bercita-cita menjadi polisi wanita. Tiap hari dia menghabiskan waktu dengan 3 temannya yang juga masih menganggur dengan segala permasalahan sarjana pengangguran di Indonesia. Menurut saya seharusnya ada lebih banyak satire yang bisa ditonjolkan di sini, misalnya sistem pendidikan kita, perekrutan pegawai di perusahaan dan banyak lagi satire pencari kerja tanpa harus kehilangan sense of humor sebagai film komedi.

Inti cerita film adalah kekecewaan orang tua Mae (Meriam Bellina dan Jaja Miharja) karena meskipun sarjana Mae masih juga menjadi beban kelaurga. Mereka berharap Mae segera menikah sehingga beban mereka berkurang. Dengan segala keterbatasannya mereka mencari jodoh buat Mae. Disinilah letak kelucuan yang diharapkan. Dari semua calon yang ada Mae selalu menolak dengan cara memberi kode pada ketiga temannnya yang kemudian secara fisik akan mengancam calon-calon ini. Baca entri selengkapnya »

Bangsa Pemudik Bermental Baja

Oktober 20, 2007

Pindah blog nih ke http://maliablog.wordpress.com/

Sebagai member sejati hajatan tahunan Mudik Lebaran, saya merasakan betapa kita, orang Indonesia sebenarnya bermental baja. Mudik dengan segala tetek bengeknya menyisakan banyak cerita perjuangan.

Ya mudik adalah perjuangan. Bagaimana tidak berjuang? Dari moda yang digunakan, urusan mudik orang Indonesia menurut saya patut diacungi jempol. Segala moda tidak luput digunakan oleh pemudik. Dari moda yang tidak nyaman seperti sepeda motor sampai moda yang tidak pernah terbayang sebelumnya untuk digunakan mudik seperti bajaj. Dari moda yang susah dapat tempat duduknya seperti kereta api ekonomi sampai mobil back terbuka menjadi pilihan untuk mudik

Naik sepeda motor bahkan pernah menjadi olok-olok di Editorial Metro TV, “Bangsa macam apa yang begitu niatnya mudik dengan naik sepeda motor?” Menurut saya justru para pemudik sepeda motor lah pemudik sejati. Mudik dengan sepeda motor membutuhkan kondisi badan yang 150% fit. Posisi duduk tanpa bersandar, menjaga keseimbangan sambil menyetir adalah posisi ketahanan fisik yang luar biasa. Apalagi jika harus membonceng anggota keluarga, istri dan anak yang kadang-kadang lebih dari satu dan masih balita.

Dari segi biaya naik sepeda motor tentu saja sangat irit dibanding harus membeli tiket bus yang naik sampai 100% untuk seluruh kelaurga. Namun karena terbatasnya tangki bensin, para pemudik harus rela untuk antri dengan sesama pemudik setiap beberapa jam di pom bensin yang dilewati. Bahkan demi mudik dengan sepeda motor, para pemudik sering kali tidak berpuasa. Beberapa saudara dan teman saya yang mencoba mudik dengan sepeda motor meskipun hanya rute Jakarta-Brebes akhirnya selalu membatalkan puasa setelah sampai rumah karena haus luar biasa.

Kreativitas pemudik sepeda motor untuk bisa mudik dalam rombongan teman/keluarga juga luar biasa. Rombongan ini biasanya ditandai dengan mengenakan seragam rompi/jaket warna cerah atau dengan memasang bendera kecil di sadel belakang. Klub-klub sepeda motor bahkan getol mengadakan acara mudik bareng, meskipun mudik dengan sepeda motor dalam konvoi juga mengundang risiko. Saat melaju kencang, sekali satu sepeda motor jatuh bisa mengakibatkan tabrakan beruntun yang berakibat fatal.

Begitu pun mudik dengan bajaj, kendaraan yang memiliki gaya getar di atas rata-rata kendaraan yang ada di dunia. Jika turun bajaj dari Manggarai ke Cikini saja tubuh masih bergetar, bagaimana rasanya mudik dengan bajaj dari Jakarta ke Cirebon? Saya pikir hanya orang bermental baja yang mau bergetar selama berjam-jam dalam bajaj.

Mudik dengan kereta ekonomi juga butuh mental baja beton. Harus sigap mencari tempat bahkan sebelum penumpang dari jurusan asal turun. Penumpang kereta ekonomi juga siap malu karena meskipun jelas laki-laki dan masih muda tetap keukeuh berebut di gerbong khusus untuk lansia dan ibu hamil.

Mudik juga menciptakan kreativitas-kreativitas yang unik. Beberap mobil pick up diberi terpal penutup sedangkan mobil barang tertutup di buka pintunya. Terbayang betapa panjang perjuangan para pemudik ini mengingat puncak mudik pada dua hari sebelum lebaran kemaren hujan deras mengguyur Cikampek di tengah malam.

Jadi Siapa bilang kita orang Indonesia bermental tempe? Cuma butuh momentum dan kemauan untuk menunjukkan kita sebenarnya bermental baja beton.

AGAMA KTP

Oktober 6, 2007

Pindah blog nih ke http://maliablog.wordpress.com/

Sebagai negara yang berketuhanan Yang Maha Esa, negara kita mewajibkan tiap orang memilih satu agama. Beberapa warga negara yang menganut agama yang tidak terdaftar bahkan diharuskan memilih salah satu agama yang ada dan dicantumkan dalam KTP. Dari awal sekali di sekolah kita terbiasa mengidentifikasikan seseorang dengan agamanya. Ketika berkenalan, sangat terbiasa bagi kita untuk bertanya, “Apa agamamu? Kamu ke mesjid? Ke gereja?” Kita bahkan tidak siap untuk mendengar seseorang mengatakan tidak beragama.

Dalam kehidupan sehari-hari kita menemukan bahwa agama tidak berbanding lurus dengan karakter kita. Bahkan kita temui atas nama agama, kita memburu orang-orang Ahmadiah. Atas nama agama, FPI merusak warung-warung makan yang buka pada Bulan Ramadhan. Seorang guru agama memperkosa muridnya. Mungkin kita bisa mengatakan, “Itu kan oknum, tidak bisa disimpulkan bahwa agama tidak mencerminkan tingkah laku.” Kalau begitu bagaimana dengan fakta bahwa negara kita adalah negara terkorup di dunia? Bisa dipastikan bahwa semua koruptor di Indonesia adalah orang beragama.

Jadi sepertinya agama bukan cerminan tingkah laku sehari-hari. Kita bangga dengan agama masing-masing tapi tetap saja tidak menunjukkan perilaku yang diatur dalam agama kita. Kita menjaga kuat atribut agama kita tapi tidak membiarkan agama menuntun kita. At the end yang membedakan kita dengan orang yang tidak beragama hanyalah atribut-atribut fisik tadi. Kita ke gereja tiap hari tapi tetap korupsi, kita solat tiap hari tapi kita juga berzina. Dengan sadar kita membatasi peran agama hanya sebatas atribut fisik sebagai identitas KTP saja. Tidak heran jika temuan menunjukkan lembaga-lembaga yang mengurus keagamaan justru lembaga yang terbanyak korupsinya.

Sebaliknya, banyak orang yang mengaku tidak beragama tapi tingkah lakunya mencerminkan ajaran agama-agama yang kita anut. Tidak beragama tapi berakhlak baik, tidak beragama tapi layak dipercaya.

Tentu saja ini bukan ide untuk men-generalisasikan bahwa orang tidak beragama lebih baik dari yang beragama. Namun fakta bahwa negara kita merupakan negara terkorup di dunia menunjukkan bahwa agama kita hanya sekedar keterangan yang muncul di KTP. Sekedar informasi statistik dunia bahwa negara kita merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak.

Jika kita sadar bahwa agama sebenarnya adalah tuntunan moral tapi pada saat yang bersamaan kita mengakui negara kita adalah negara terkorup di dunia, lalu apa bedanya kita dengan orang yang tidak beragama?

Ramadhan sebagai Bulan Trening

Oktober 3, 2007

Pindah blog nih ke http://maliablog.wordpress.com/

Ramadan telah tiba. Antusiasme dan perhatian dengan sendirinya beralih untuk menyambut dan menikmati bulan yang penuh berkah ini. Jadwal aktivitas hingga tayangan tv menyambut bulan ini dengan gegap gempita. Jam-jam masuk dan pulang kantor mulai dimajukan. Stasiun televisi berlomba-lomba menawarkan tayangan religius untuk memeriahkan bulan Ramadan. Puasa yang dimaksudkan untuk dapat merasakan penderitaan kaum duafa yang tidak selalu bisa merasa kenyang justru dijadikan momentum untuk menikmati segala jenis makanan saat berbuka dan bersaur. Begitu gempitanya kegiatan menyambut Ramadan ini sehingga banyak pihak yang melihat kegiatan sekitar Ramadan semakin terperangkap dalam selebrasi ibadah.

Keimanan manusia selalu naik turun. Naik turunnya iman adalah wajar mengingat manusia tercipta dengan sifat korup yang sangat nyata. Namun demikian manusia mempunyai kemampuan untuk mencapi keimanan tertinggi. Untuk mengurangi ketidakstabilan tingkat iman, diperlukan pelatihan yang memungkinkan seseorang meningkatkan kualitas imannya. Bulan Ramadan tidak lain merupakan masa trening bagi umat muslim untuk mengembalikan dan menambah tingkat imannya. Dengan indahnya Islam menetapkan satu bulan tertentu dalam setahun di mana seorang muslim diwajibkan untuk melatih dan menempa diri menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya sehingga siap menghadapi tahun berikutnya.

Lepas dari bulan Ramadan sudah ditentukan dalam Al Quran, penentuan satu bulan (kurang lebih 30 hari) puasa memiliki arti yang logis. Dalam buku terlaris sepanjang masa The 7 Habits of Highly Effective People, Covey mengungkapkan karakter manusia tidak bisa terbentuk dalam sekejap. Karakter ditentukan oleh kebiasaan yang berkesinambungan. Sedangkan kebiasaan dibentuk melalui tindakan yang berulang-ulang. Secara eksplisit Covey menyatakan 30 hari adalah waktu yang diperlukan oleh manusia untuk menjadikan tindakan sebagai kebiasaan.

Bulan Ramadan sesungguhnya adalah bulan trening massal dan merupakan berkah bagi umat muslim. Dalam 30 hari inilah umat muslim diberi kesempatan untuk membangun karakter melalui kebiasaan-kebiasaan yang baik. Jujur adalah konsekuensi otomatis ketika seorang muslim selesai melewati bulan Ramadan. Begitu pula tidak bergosip, tidak berkata jorok, dan bangun untuk salat malam adalah kebiasaan yang terbentuk jika puasa dan ibadah lainnya memang secara konsisten dijalankan selama bulan Ramadan.

Di luar kebiasaan-kebiasaan religius, bulan ramadhan juga bulan yang sangat efektif untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan lain. Seorang perokok berat misalnya, sangat mungkin bisa menghilangkan kebiasaan merokoknya. Ketika seseorang belajar bangun pagi dalam 30 hari dengan weker, dijamin setelah 30 hari, dia akan bangun pagi tanpa bantuan weker atau alarm. Tubuh akan menyesuaikan dalam 30 hari.

Banyak yang beranggapan Ramadan hanya bulan suci dimana pahala, berkah dan rahmat berkali lipat diberikan bagi orang yang beribadah. Bukan menganggapnya sebagai bulan trening, banyak muslim menjadikan Ramadan hanya sebagai saat puncak untuk beribadah. Puasa, salat, tadarus, dan sedekah yang bertubi-tubi hanya di bulan ramadhan. Damai dan saling menghormati hanya satu bulan dalam satu tahun. Keluar dari Ramadan berakhir pula ibadah yang bertubi-tubi itu.

Tentu saja tidak salah beribadah bertubi-tubi. Untuk merangsang muslim melatih kebiasaan baik, ada begitu banyak keistimewaan bulan Ramadan. Pahala, berkah berlimpah di bulan ini. Dengan keistimewaan ini diharapkan umat muslim berlomba-lomba merumuskan kebiasaan yang ingin mereka miliki setelah Ramadan berakhir. Salat yang bertubi-tubi dan hilang setelah Ramadan berakhir berarti gagal lah seorang muslim dalam memetik Ramadan sebagai bulan trening. Sedekah yang ratusan kali lipat di bulan Ramadan tidak memberi arti perbaikan kualitas iman jika berhenti setelah Ramadan usai.

Tidakkah indah menyadari muslim mendapat begitu banyak keistimewaan melalui satu bulan dimana bulan trening menjadi legitimate?

Melodrama Korea vs Sinetron Indonesia

Oktober 2, 2007

Pindah blog nih ke http://maliablog.wordpress.com/

Tidak pernah terpikir sebelumnya kalau saya akan mengomentari film-film seri Korea. Selama ini saya selektif dalam menonton film. Buat saya sebuah film harus menghargai kami para penonton bahkan seandainya kami menonton film tersebut lewat DVD bajakan sekalipun, hehehe.

Atas permintaan saya untuk memilihkan film korea terlucu, seorang penjaga stan DVD di ITC Kuningan menyarankan melodrama Korea yang berjudul Witch Yoo Hee. Karena bagus, saya mulai nonton beberapa judul film korea yang lain atas jasa baik teman kolektor film korea. Menurut saya, secara umum banyak yang harus dicontoh dari melodrama Korea oleh sineas persinetronan Indonesia.

Dari banyaknya episode, rata-rata film Korea adalah 2-3 session yang terdiri dari belasan hingga 20-an episode. Bandingkan dengan sinetron kita yang bisa mencapai ratusan episode. Rekor terpanjang sinetron kita menurut Kompas Minggu adalah sinetron Tersanjung yang diputar selama kurang lebih 3 tahun. Dalam waktu dekat rekor ini bahkan akan dipatahkan oleh sintron kejar tayang harian yang baru-baru ini mendominasi televisi nasional! Entah siapa yang bosan duluan, para penonton atau para pemasang iklannya.

Berdasarkan tema, melodrama korea memiliki tema yang kuat dan direncanakan dengan matang. Beberapa melodrama ini bahkan sudah mulai mengikuti jejak Hollywood dengan menceritakan secara detil profesi-profesi tertentu. Profesi semacam dokter dan koki dibahas dengan detil termasuk istilah-istilah medis dan kuliner yang tidak umum. Jika ide cerita diangkat dari komik Jepang, di awal episode akan dijelaskan sumber ide tersebut.

Ini tentu berbeda dengan sinetron kita. Sinetron kita lebih berkiblat ke telenovela Amerika selatan. Si tokoh tidak memiliki pekerjaan yang jelas. Kalau pun memiliki pekerjaan yang jelas, tidak ada interaksi apa pun antara pekerjaan si tokoh dengan peran yang dia mainkan.

Begitu pun dengan asal dari ide cerita. Persinetronan kita bisa dengan mudah menjiplak film / komik Jepang, film Taiwan, film Korea atau apa pun asal kelihatan bagus tanpa mau mengakuinya. Sinetron Candy misalnya, meskipun jelas-jelas menjiplak komik Candy-candy namun produsernya mengaku tidak meniru sama sekali.

Seorang teman yang bekerja di Rapi Film bahkan mengaku bahwa Bosnya selalu menyuruh membaca komik Jepang serial cantik untuk selanjutnya diceritakan kembali kepada si Boss tersebut. Jika si Boss terkesan dengan ide cerita, maka dia akan memanggil penulis scenario untuk membuat plot cerita seperti pada komik tersebut dengan nama tokoh yang berbeda dengan sedikit variasi pada endingnya.

Film-film korea juga sudah mulai mengangkat isu-isu sosial yang menjadi keprihatinan masyarakat setempat. Penyakit tentang aids misalnya dikampanyekan dengan menarik tentang bagaimana penularannya dan apa yang harus kita lakukan jika hidup dengan orang yang tertular aids. Ini bahkan jauh lebih efektif dibanding iklan layanan masyarakat kita bahkan jika ditayangkan setiap hari prime time.

Sebaliknya sinetron kita HANYA dilatarbelakangai motivasi untuk mendapat peringkat terbaik sesuai daftar yang dikeluarkan AC Nilsen, satu pemeringkatan yang tidak umum diketahui bagaimana cara menghitungnya. Tidak heran jika muncul tokoh superjahat yang tidak punya otak. Mertua perempuan misalnya bisa digambarkan sejahat setan yang tidak layak hidup.

Dari segi pengambilan gambar melodrama Korea juga terlihat belajar mengikuti film Hollywood. Pengambilan gambar lewat pantulan banyak dilakukan dan satu adegan diambil dari beberapa sudut.

Melodrama Korea juga dikenal pemurah dalam memvisualkan tokoh-tokohnya. Penokohan karakter ini sangat kuat dan konsisten dari sejak episode pertama hingga tamat. Seorang tokoh fashion freak misalnya akan habis-habisan didandani dengan teramat sangat matching dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sebaliknya orang kampung pun diberikan kostum sesuai kostum orang kampung dengan make up yang sesuai.

Saya ingat dalam satu episode sinetron Liontin yang dibintangi oleh Mirdad bersaudara, seorang tokoh cucu konglomerat yang mewarisi perusahaan berangkat ke kantor dengan blazer yang sangat murahan. Blazer tersebut tampak kedodoran dan tidak enak dilihat. Tentu saja ini memperlihatkan tingkat kemalasan yang luar biasa dari Bagian Kostum. Saya yakin, jika penyiar-penyiar berita Metro TV bisa mengenakan blazer terbaik saat on air, tidak sulit bagi sinetron-sinetron kita untuk mencari sponsorship dengan perusahaan garmen merk local ternama.

Ini tentu berbeda dengan melodrama Korea. Tidak tanggung-tanggung sponsor-sponsor melodrama Korea adalah mobil-mobil mewah terbaru. Dalam satu serial jika BMW menjadi sponsornya maka semua jenis BMW yang dipasarkan di Korea akan dimunculkan disesuaikan dengan karakter si tokoh. Seorang dokter muda yang oportunis akan mengendarai BMW sport biru menyala open cap 2 pintu, sedangkan seorang tokoh utama perempuan yang kikuk dan kaku menggunakan BMW warna hitam serie 7. Dari yang saya amati BMW bahkan bersaing ketat dengan Audi dan Mercedes Benz untuk untuk dapat mensponsori melodrama Korea. Persaingan sponsor ini juga berlaku untuk produk gadget. Sponsor handphone semacam Samsung, LG, Sony Erikson bersaing sangat ketat dalam mensponsori melodrama-melodrama Korea ini.

Hmm sepertinya, ngga ada bagus-bagusnya sinetron kita dibanding melodrama Korea. Entah saya yang terlalu nyinyir mengomentari sinetron Indonesia atau memang sinetron kita tidak layak untuk dibandingkan?

BUDAYA ANTRI VS LADY’S FIRST

Oktober 1, 2007

Pindah Blog ke http://maliablog.wordpress.com/

Atas permintaan sendiri saya pindah ke credit remedial (baca: kredit macet). Namanya juga kredit macet, debitur-debiturnya relatif lebih sulit ditemui dibanding kredit yang lancar. Segala cara ditempuh untuk berkomunikasi dengan mereka, termasuk komunikasi lewat fax. Karena banyaknya kredit yang macet, kami harus antri untuk menggunakan dua mesin fax yang ada. Satu kali dalam antrian, seorang pegawai senior tanpa permisi menyerobot giliran saya untuk fax meskipun dia tau saya sudah lama menunggu. Tanpa merasa bersalah dia mendahului dan dengan ringan berkata, “saya duluan ya, saya banyak kerjaan.” Baca entri selengkapnya »