Pindah Blog ke http://maliablog.wordpress.com/
Atas permintaan sendiri saya pindah ke credit remedial (baca: kredit macet). Namanya juga kredit macet, debitur-debiturnya relatif lebih sulit ditemui dibanding kredit yang lancar. Segala cara ditempuh untuk berkomunikasi dengan mereka, termasuk komunikasi lewat fax. Karena banyaknya kredit yang macet, kami harus antri untuk menggunakan dua mesin fax yang ada. Satu kali dalam antrian, seorang pegawai senior tanpa permisi menyerobot giliran saya untuk fax meskipun dia tau saya sudah lama menunggu. Tanpa merasa bersalah dia mendahului dan dengan ringan berkata, “saya duluan ya, saya banyak kerjaan.”
Tentu saja saya dongkol, memangnya saya ngga punya kerjaan apa? Tapi nilai posistifnya, saya jadi kepikiran untuk berbagi opini di sini. Kalau di kantor saja, sebuah bank besar di mana tidak ada yang tidak berpendidikan, tidak bisa antri, apa yang kita harapkan di luaran sana?
Agaknya budaya antri memang tidak berbanding lurus dengan pendidikan. Ada kejadian yang diquote dengan bagus oleh Arvan Pradiansyah tentang ketidakmampuan kita untuk antri. Di Singapura, tiap ada orang yang menyerobot antrian taksi seketika orang-orang yang antri itu berteriak, “Hey Indonesian, wait…Indonesian, wait…” Ini benar-benar memalukan. Stereotip orang Indonesia di negara tetangga benar-benar buruk. Saya pikir orang Indonesia yang naik taksi di Singapura sudah barang tentu bukan TKI atau TKW. Minimal adalah orang yang bisa bepergian dan belanja di Singapura. Jadi satu bukti lagi budaya antri juga tidak berbanding lurus dengan kemapanan.
Tadinya saya percaya semakin banyak bepergian ke luar negeri, pikiran kita akan semakin terbuka. Terbuka untuk belajar bagaimana beradabnya bangsa-bangsa lain dibanding kita. Tapi ternyata ketika mencoba menerapkannya di Indo tidak sesederhana itu.
Ketika berkesempatan tinggal di Amerika Serikat, saya benar-benar kagum dengan etika saling memberikan kemudahan di sana. Jangankan budaya antri, di sana perempuan bahkan selalu didahulukan dalam antrian. W-O-W! Dalam antrian menunggu lift di kampus, masuk supermarket, masuk bioskop, masuk ruangan kuliah, antri naik bis, perempuan selalu didahulukan. Benar-benar two step ahead dibanding kita di sini. Saya pikir betapa tersanjungnya menjadi perempuan di Amerika sekaligus betapa kasihannya perempuan Amerika yang tinggal di Indonesia.
Saya juga kagum dengan orang-orang Indonesia yang bisa sangat tertib di sana. Di perempatan jalan yang tidak dilengkapi dengan lampu merah, orang-orang indo ini menjadi bagian dari komunitas yang bertanggung jawab dan mau saling bergantian memberi jalan sesuai arah jarum jam. Di minggu pertama saja saya sudah diwanti-wanti untuk tidak melanggar budaya ini oleh teman saya orang Indo yang hampir dua tahun tinggal di sana.
Saya pikir ini hebat sekali. Ketika balik ke Jakarta dan mencoba untuk melakukan hal yang sama di perempatan yang sedang mati lampu merahnya, saya diklakson tak putus-putusnya dari mobil di belakang saya. Maksud hati sih mau memberi jalan satu mobil eh malah sepuluh mobil yang lewat. Cape deh…
Jadi sepertinya mimpi adanya budaya lady’s first di Indo masih akan tetap menjadi mimpi. Gimana mau lady’s first, antri aja susahnya bukan main. Ayo dong…antri mas, mbak…
Pindah Blog ke http://maliablog.wordpress.com/
Tags: budaya antri, lady's first
Oktober 2, 2007 pada 7:03 am
Jangankan orang Indonesia dibandingin ama bule2 Amrik, lha wong dibandingin sama bebek aja kalah he he he. Bukan bermaksud nyindir karena kamu pengusaha telur asin dari brebes lho
Oktober 26, 2007 pada 3:42 am
saya pikir orang kamerika lebih peduli terhadap budaya antri daripada orang indonesia di indonesia. ironis memang…