Arsip untuk Oktober 20th, 2007

Bangsa Pemudik Bermental Baja

Oktober 20, 2007

Pindah blog nih ke http://maliablog.wordpress.com/

Sebagai member sejati hajatan tahunan Mudik Lebaran, saya merasakan betapa kita, orang Indonesia sebenarnya bermental baja. Mudik dengan segala tetek bengeknya menyisakan banyak cerita perjuangan.

Ya mudik adalah perjuangan. Bagaimana tidak berjuang? Dari moda yang digunakan, urusan mudik orang Indonesia menurut saya patut diacungi jempol. Segala moda tidak luput digunakan oleh pemudik. Dari moda yang tidak nyaman seperti sepeda motor sampai moda yang tidak pernah terbayang sebelumnya untuk digunakan mudik seperti bajaj. Dari moda yang susah dapat tempat duduknya seperti kereta api ekonomi sampai mobil back terbuka menjadi pilihan untuk mudik

Naik sepeda motor bahkan pernah menjadi olok-olok di Editorial Metro TV, “Bangsa macam apa yang begitu niatnya mudik dengan naik sepeda motor?” Menurut saya justru para pemudik sepeda motor lah pemudik sejati. Mudik dengan sepeda motor membutuhkan kondisi badan yang 150% fit. Posisi duduk tanpa bersandar, menjaga keseimbangan sambil menyetir adalah posisi ketahanan fisik yang luar biasa. Apalagi jika harus membonceng anggota keluarga, istri dan anak yang kadang-kadang lebih dari satu dan masih balita.

Dari segi biaya naik sepeda motor tentu saja sangat irit dibanding harus membeli tiket bus yang naik sampai 100% untuk seluruh kelaurga. Namun karena terbatasnya tangki bensin, para pemudik harus rela untuk antri dengan sesama pemudik setiap beberapa jam di pom bensin yang dilewati. Bahkan demi mudik dengan sepeda motor, para pemudik sering kali tidak berpuasa. Beberapa saudara dan teman saya yang mencoba mudik dengan sepeda motor meskipun hanya rute Jakarta-Brebes akhirnya selalu membatalkan puasa setelah sampai rumah karena haus luar biasa.

Kreativitas pemudik sepeda motor untuk bisa mudik dalam rombongan teman/keluarga juga luar biasa. Rombongan ini biasanya ditandai dengan mengenakan seragam rompi/jaket warna cerah atau dengan memasang bendera kecil di sadel belakang. Klub-klub sepeda motor bahkan getol mengadakan acara mudik bareng, meskipun mudik dengan sepeda motor dalam konvoi juga mengundang risiko. Saat melaju kencang, sekali satu sepeda motor jatuh bisa mengakibatkan tabrakan beruntun yang berakibat fatal.

Begitu pun mudik dengan bajaj, kendaraan yang memiliki gaya getar di atas rata-rata kendaraan yang ada di dunia. Jika turun bajaj dari Manggarai ke Cikini saja tubuh masih bergetar, bagaimana rasanya mudik dengan bajaj dari Jakarta ke Cirebon? Saya pikir hanya orang bermental baja yang mau bergetar selama berjam-jam dalam bajaj.

Mudik dengan kereta ekonomi juga butuh mental baja beton. Harus sigap mencari tempat bahkan sebelum penumpang dari jurusan asal turun. Penumpang kereta ekonomi juga siap malu karena meskipun jelas laki-laki dan masih muda tetap keukeuh berebut di gerbong khusus untuk lansia dan ibu hamil.

Mudik juga menciptakan kreativitas-kreativitas yang unik. Beberap mobil pick up diberi terpal penutup sedangkan mobil barang tertutup di buka pintunya. Terbayang betapa panjang perjuangan para pemudik ini mengingat puncak mudik pada dua hari sebelum lebaran kemaren hujan deras mengguyur Cikampek di tengah malam.

Jadi Siapa bilang kita orang Indonesia bermental tempe? Cuma butuh momentum dan kemauan untuk menunjukkan kita sebenarnya bermental baja beton.