Review film “Get Married”

Oktober 24, 2007

Blog saya pindah ke http://maliablog.wordpress.com/

Get Married dibuka dengan suara narator yang menceritakan kisah masa kecil dan cita-cita 4 tokoh utama yaitu Mae (Nirina Zubir), Guntoro (Desta Club Eighties), Eman (Aming) dan Beni (Agus Ringgo). Tadinya saya khawatir film ini akan terjebak mengikuti film “Jomblo” yang sepanjang film selalu diselingi narator. Namun untungnya suara narator hanya di pembukaan film.

Film ini bercerita tentang Mae, sarjana sekretaris yang masih menganggur dan tetap bercita-cita menjadi polisi wanita. Tiap hari dia menghabiskan waktu dengan 3 temannya yang juga masih menganggur dengan segala permasalahan sarjana pengangguran di Indonesia. Menurut saya seharusnya ada lebih banyak satire yang bisa ditonjolkan di sini, misalnya sistem pendidikan kita, perekrutan pegawai di perusahaan dan banyak lagi satire pencari kerja tanpa harus kehilangan sense of humor sebagai film komedi.

Inti cerita film adalah kekecewaan orang tua Mae (Meriam Bellina dan Jaja Miharja) karena meskipun sarjana Mae masih juga menjadi beban kelaurga. Mereka berharap Mae segera menikah sehingga beban mereka berkurang. Dengan segala keterbatasannya mereka mencari jodoh buat Mae. Disinilah letak kelucuan yang diharapkan. Dari semua calon yang ada Mae selalu menolak dengan cara memberi kode pada ketiga temannnya yang kemudian secara fisik akan mengancam calon-calon ini.

Yang menurut saya aneh adalah banyak hal yang tidak perlu di acara tolak menolak jodoh ini. Saya pikir tidak perlu mengolok-olok profesi guru dengan menyamakan profesi ini dengan tukang ojek. It’s okay kalau mengolok-olok penampilan si calon. Guru SMP menurut saya jelas jauh lebih baik dari pengangguran. Juga, tokoh Mae mengolok-olok semua calonnya karena semua naik motor bebek, padahal keluarga Mae tinggal di kampung dan dia sendiri tidak punya motor bebek.

Semua calon akhirnya tidak bisa diterima termasuk Rendy (Richard Kevin), calon jodoh seorang konglomerat yang muncul begitu saja ala film komedy. Rendy ditolak karena salah paham Eman yang buta warna. Lagi, seharusnya di adegan ini banyak edukasi yang bisa diberikan terkait buta warna, termasuk profesi-profesi apa yang tidak bisa dimasuki oleh orang buta warna.

Ide cerita mencarikan jodoh buat Mae dalam rangka mengurangi beban keluarga justru malah ditinggalkan karena akhirnya Mae meminta salah satu dari ketiga temannya untuk menikah dengannya dalam rangka menyelamatkan ibu Mae yang sakit keras karena stress anaknya tidak kunjung berjodoh.

Setting film secara keseluruhan cukup mewakili meskipun sangat aneh melihat orang gedongan menyerbu kampung dengan menggunakan moge dan mobil mewah. Kostum tokoh juga sudah mewakili walaupun seharusnya jangan sandal jepit baru yang digunakan saat adegan close up kaki Mae. Setting satire di rumah Dukun Cabul yang menggunakan laptop menurut saya cukup lucu meskipun seharusnya webiste yang sedang dibuka si Dukun jangan website bokep. Akan lebih lucu kalau website yang dibuka adalah website networking macam myspace atau friendster yang sedang populer.

Secara keseluruhan menurut saya film ini menghibur tapi tidak terlalu lucu. Ada dua kakek kembar yang selalu dimunculkan tanpa tau apa maksudnya. Mungkin meniru si kembar Patty dan Salma di serial The Simpsons. Beberapa satire tentang orang bule juga tidak lazim dan tidak terlalu lucu. Disini terlihat penulis ingin mengkritik kita yang terlalu mengagung-agungkan orang Bule tapi pada saat yang sama penulis juga memuji habis-habisan “keberadaban Amerika” yang ditunjukkan dari sikap dan dialog Rendy (diceritakan lama tinggal di Amerika) yang tidak mau memakai kekerasan untuk membalas keroyokan teman-teman Mae.

Blog saya pindah ke http://maliablog.wordpress.com/

Tags: , , , , , , , , , ,